May 20, 2008

This Blog Supports Park Ji Sung


Rob Hughes dalam ulasannya menyebutkan sosok Park Ji Sung menjadi elemen kunci di setiap langkah perjalanan MU meraih gelar Premiership tahun ini. Park jelas tidak seperti Ronaldo yang mahir mencetak gol, tidak trengginas seperti Rio Ferdinand dalam mengamankan pertahanan MU. Namun Park selalu ada di setiap centi lapangan hijau. Park yang tidak kenal lelah berada di mana-mana. Saat di serang, Park layaknya pemadam kebakaran hadir memback-up pertahanan baik di kiri maupun kanan. Sebaliknya saat menyerang, Park menusuk ruang-ruang kosong pertahanan musuh. Teknik Park tidak terlalu bagus dibanding pemain lain, shootingnya sangat buruk namun Park punya speed dan endurance yang membuat lawan tunggang langgang.

Pada situasi apapun Park selalu menunjukan sikap Pantang Menyerah. Selalu berlari dan berlari ! Inilah yang sebenarnya merusak permainan dan stamina lawan. Dalam skema permainan MU dibutuhkan keseimbangan bertahan menyerang. Ada dua nama yang memegang peran ini, Carrick dan Park. Alex Ferguson tahu persis filosofi Taeguk Warrior bangsa Korea. Sosok Park mengusung kultur Korea yang mengutamakan kekuatan keharmonisan dan keseimbangan.

Esok, akan menjadi sejarah tersendiri bagi Park Ji Sung. Tepatnya tanggal 21 Mei 2008, saat MU berhadapan dengan Chelsea di Final Liga Champions 2008. 100 tahun di hari kebangkitan bangsa Indonesia, saya sangat berharap Park mampu mencetak gol dan mempersembahkan kemenangan di partai final yang disebut-sebut sebagai pertandingan termahal. Jika ini terwujud akan menjadi momentum yang bergelombang di benua Asia. Blog ini mendukung penuh Park Ji Sung mencetak gol dan menaklukan Moscow sebagaimana bangsa Jepang menaklukan Rusia seabad silam.






[get this widget]

Read more!

May 7, 2008

The Great One : Avram Grant


Perlahan namun meyakinkan, sosok Avram Grant mulai keluar dari bayang-bayang Jose Mourinho. Fans The blues sudah menerima dan mengakui eksistensi Avram Grant sejauh ini, bahkan John Terry mendukung keberadaan Grant di Stamford Bridge untuk musim depan. Menaklukan Rafa Benitez menuju Final Champions League dan menahan langkah Alex Ferguson di Premiership, merupakan jawaban jitu dan faktual untuk menjahit mulut besar The Special One - Jose Mourinho.

Perbedaan nyata sosok Mourinho dan Grant memang ada pada mulut besar. Si Jenius Mourinho tidak bisa menjaga mulut besarnya. The Special One sibuk menebar permusuhan dengan komentar pedas. Oke lah psy-war pada Ferguson atau Wenger memang perlu untuk merusak konsentrasi lawan. Kesalahan terbesar Mourinho ketika mulai melawan penguasa Chelsea, Roman Abramovic. Merasa mendapat dukungan kuat dari pemain dan fans, Mourinho berani mengkritik pemilik Chelsea di depan wartawan. Hasilnya Mourinho di depak di siang bolong ! BLEDARR !

Wartawan sepakbola Inggris yang dikenal kejam dalam menulis, tentu saja berpesta setiap ada kontroversi. Mourinho = kontroversi. Ucapannya menjadi sasaran empuk yang selalu digosok agar melemparkan komentar pedas saat press confrence. The Special One tidak menyadari bahwa segala gerak-geriknya dikondisikan - dimanipulasi oleh wartawan agar terkesan melawan Roman.

Sosok Avram Grant
Kesan pertama, Avram Grant bukan sosok populer, gerak-geriknya terkesan canggung. Di internet, Chelsea Hater mengilustrasikan Avram Grant seperti kodok atau burung hantu. Awalnya seluruh dunia tidak menerima kehadiran Grant di ruang ganti Chelsea. Namun ternyata pelatih ini lebih pandai membaca situasi dan berhasil mengarahkan Chelsea pada kondisi yang lebih baik. Di sinilah ketegaran seorang Avram Grant yang patut diacungi jempol. Bayangkan, sebagai orang baru yang harus bertanggung jawab namun menghadapi perlawanan internal. Sejauh ini Grant sudah membuktikan tak kalah dibanding Mourinho, Chelsea berpeluang meraih double winner.

Saya sebagai seorang fans Setan Merah, jujur mengakui permainan Chelsea lebih stabil dibanding Manchester United. Ingat ya LEBIH STABIL. Organisasi permainan dan kualitas mental pemain Chelsea lebih kuat, artinya pemain Chelsea (saat ini) lebih tangguh menghadapi situasi sulit di banding Man United.

Setidaknya ada enam pemain Chelsea tipe Die Hard di semua lini. Terry, Chech, Cole, Essien, Ballack dan Drogba memiliki karakter kuat yang mampu bermain di dalam tekanan. Sebaliknya Man U, semenjak ditinggal Roy Keane seperti kehilangan nyawa kedua. Pemain kunci seperti Ronaldo dan Rooney mudah frustasi atau hang ketika berada pada tekanan. Kualitas mental Carrick dan Evra cukup baik, namun belum dapat mewarnai team secara keseluruhan. Justru nyawa Die Hard Manchester United ada pada sosok Alex Ferguson. Ya pada kakek inilah puluhan penggemar United menggantungkan harapan double winner.

Saat ini kedua team, Chelsea dan Manchester United berada pada tekanan tinggi. Emosi pemain, pelatih, kru team dan fans terombang-ambing ketegangan. Dalam situasi ini, kualitas mental akan berperan besar dibanding teknis dan strategi. Ferguson dan Grant harus mampu membakar semangat pasukannya, memperbesar keunggulan jika dalam posisi unggul atau mengejar gol ketika tertinggal.

Ada fenomena psikologis di lapangan hijau, team yang unggul 1-0 cenderung bertahan untuk mempertahankan keunggulan, bukan sebaliknya memperbesar keunggulan. Sebaliknya team yang tertinggal secara bergelombang menyerang habis-habisan pertahanan lawan.

Prediksi peluang juara, boleh setuju atau tidak, namanya juga opini :
Premiership : Chelsea (35%) : Man U (65%)
Champion League : Chelsea (52%) vs Man U (48%)






[get this widget]

Read more!

May 4, 2008

Main Bola bukan Main Mata


O Nani ... O Nani ... O Nani ...
Sebaiknya Nani segera pergi salon, otak pemain ini perlu mendapat “hairdryer” dari Fergie agar tidak lagi melakukan tindakan yang dapat merugikan team bahkan karirnya sendiri. Kartu merah mengakhiri premiership musim ini untuk Nani. Unggul 3-1 masih saja melakukan idio-tion ( Idiot Action ! ) dengan menanduk wajah Lucas Neill. Parahnya, setelah menanduk terjatuh, berpura-pura kesakitan. Halah ... apa kata dunia, please fair play ! Padahal kontribusi Nani melawan Wigan sangat penting untuk mengisi posisi Ronaldo yang digeser ke depan membantu Tevez.

"Ngeeeeeeeeeeeenggggggg ... id**t", suara khas hairdryer Ferguson mengeringkan otak Nani.

Bagi Fergie, tak ada kompromi untuk sebuah profesionalisme. Pemain sekaliber David Beckham pun pernah merasakan sepatu mendarat di pelipisnya karena dugem sebelum bertanding. Menerima gaji milyaran rupiah per minggu tentunya tak ada toleransi untuk kesalahan, egoisme dan perilaku idiot. Sebagian hidup dan privacy pemain diatur oleh klub, sebaliknya dengan uang milayaran rupiah per minggu, pemain nyaris bisa membeli apa saja.

Melawan West Ham, Fergie menurunkan line-up menyerang untuk mengamankan raihan 3 angka. Bersama Tevez, Ronaldo di geser ke depan untuk mengisi posisi Rooney yang cedera. Nani dan Ji-Sung menyisir lapangan dari sayap. Khusus Park Ji-Sung, kembali Fergie menginstrusikan pemain yang “tak kenal lelah” untuk sering masuk ke kotak penalti sebagai penyerang lubang. Fergie paham benar pemain ini cenderung di abaikan lawan. Scholes dan Carrick menjadi jangkar di tengah mengatur keseimbangan menyerang dan bertahan. Hasilnya kemenangan 4-1 dan beberapa rekor tercipta.

Tentunya pelatih Chelsea, Avram Grant semakin sewot melihat susunan pemain West Ham yang diturunkan Alan Curbishley yang mempermudah laju Setan Merah. Center Back yang tangguh, Anton Ferdinand tidak ada dalam line up, entah karena cedera atau Alan Curbishley memberikan kesempatan pemain muda. Dua hari sebelumnya, Grant geram dan mempertanyakan integritas Alan yang menyatakan Manchester United layak menjadi juara musim ini.

Terlepas dari strategi pelatin West Ham, Alan Curbishley, di mana kemenangan atau kekalahan tidak mempengaruhi West Ham. Namun harus diakui strategi menurunkan pemain muda, mempermudah dan memberikan keuntungan bagi Setan Merah yang sedang berpacu melawan Chelsea. Thank for this fortune. I hope error from Grant.

Partai Terakhir
Dua gol Valencia, memastikan kemenangan 2-0 Wigan atas Astovilla. Artinya Wigan bertahan di Premieship dengan nilai 39. Dampaknya Wigan tidak perlu “ngotot” saat berhadapan dengan Setan Merah. Kemenangan, seri atau kekalahan di partai terakhir tidak akan mempengaruhi posisi Wigan. Jelas situasi ini menguntungkan, apalagi pelatihnya berdarah “Old Trafford” tulen, Steve Bruce. Center back Manchester United dan dipercaya memegang ban Captain di era 90-an.

Hal yang sama berlaku untuk Chelsea, kemenangan 2-0 Bolton atas Sunderland mengamankan Bolton dari Zona Degradasi. Psikologis Bolton nothing to lose di pertandingan terakhir. Walapun bisa disamakan oleh Reading, Bolton tetap unggul selisih gol. Secara keseluruhan MU dan Chelsea diprediksikan akan menang mudah, namun faktor psikologis seringkali memberikan kejutan.





[get this widget]

Read more!

April 30, 2008

Follow Follow ... United are Going To Moscow

Gemuruh nyanyian 75 ribu fans United di stadion Theater of Dream menyambut pluit panjang wasit Herbert Fandel asal Jerman.

Follow Follow Follow ...
United are going to Moscow ...

Kumandang fans, tidak saja sekedar ekspresi kemenangan namun juga melepas ketakutan dan ketegangan detak jantung plus emosi sepanjang 76 menit. Setelah gol "Old Scholes" di menit 14, Setan Merah tidak bisa menambah keunggulan, sebaliknya pemain Barca makin mendominasi permainan. Fuih ... ampun deh, didominasi lawan.

Paul Scholes
Begitu banyak kontribusi Paul Scholes untuk Setan Merah. Deretan piala di Old Trafford dalam perjalanan karirnya menjadi bukti yang sulit di bantah. Namun satu hal yang belum pernah dirasakan Scholes ! yaitu bermain di partai final Champions League. Pada tahun 1999, Scholes turut mencetak gol mengalahkan Juventus di Semifinal. Sayang dan tragis, di Final 1999 Scholes dan Roy Keane hanya menyaksikan dari tribun penonton akibat akumulasi kartu kuning.

Tak ingin terulang, Fergie menarik keluar Sholes dan memasukan Giggs untuk menjamin kehadiran Scholes di Moscow. Jangan sampai kejadian tak diinginkan seperti kartu merah atau cedera membuat Scholes tidak bisa membela Setan Merah di partai final. Thanks Scholes ...

Messi is not Messiah !
Simpati untuk Barcelona ! terutama untuk The Little Magic - Lionel Messi. Beberapa kali Messi dengan mudah mengecoh back four Setan Merah, namun sayang Messi tidak bisa menjelma menjadi seorang messiah kali ini.

Overall Barca lebih menguasai ball possesion namun sayang tidak didukung dengan ketajaman merobek gawang Van Der Sar. Shooting dari Deco, Messi dan Henry hanya nyaris menjadi gol, sungguh kurang beruntung.

Saya pikir masalah Barca tidak pada masalah teknis atau filosofi permainan, masalah ada pada psikologis yang terlihat pada tekstur wajah pemain dan pelatihnya. Setiap menemui kegagalan, kebuntuan atau tekanan di lapangan hijau hanya ekspresi kecewa yang diperlihatkan. Ekspresi seperti ini negatif dan mudah menular. Bisa jadi seluruh team Barcelona membawa ekspresi kecewa "musim ini" di koper masing-masing sebagai bekal tandang di Old Trafford.

Theater of Dream
Atmosfer stadion Theater of Dream menjadi sumber energi pemain Setan Merah. Kesulitan menemukan bentuk permainan tidak terlihat sebagai masalah berarti. Ji Sung dan Tevez dengan semangat tak henti berlari menutup celah lini tengah. Fans United seolah membakar kedua pemain ini untuk memback up pertahanan lini tengah sekaligus memulai serangan balik.






[get this widget]

Read more!

April 26, 2008

Perjudian Ferguson sangat kriminal !

Jadwal padat di tengah ambisi gelar Premiership dan League Champions memaksa Fergie berjudi saat menghadapi Chelsea di Stamford Bridge. Fergie berjudi dalam susunan pemain dengan menyimpan pemain kunci seperti Scholes, Tevez dan membangkucadangkan Cristiano Ronaldo. Hasilnya ? Tak ada skema permainan yang berjalan, selain mengharapkan waktu segera cepat berlalu. Ada banyak nilai merah atas perjudian Ferguson kali ini. Fletcher tak mampu mencover lini tengah, Silvestre keteteran membendung serangan sayap overlap, Nani keasikan mendribble bola dan old crack Ryan Giggs seringkali gagal melakukan passing dan tidak mau berlari. Saya pikir, memainkan Ryan Giggs sama saja bermain dengan 10 pemain.

Apakah Fergie sedang melakukan gambling atau berbuat kriminal ? Atau ada rencana penuh perhitungan tersendiri mengingat kekalahan ini tidak menggeser tahta Setan Merah. Formasi MU yang diturunkan jelas sekali tidak cukup memiliki amunisi untuk memukul Chelsea. Seandainya menerapkan strategi serangan balik pun, tidak ada mata rantai atau pendobrak untuk mengalirkan bola dengan cepat. Seandainya pun ada pendobrak, akan mudah diantisipasi John Terry karena hanya ada satu orang di depan, Rooney.

Evaluasi saya (kecewa berat mode ON), kekalahan ini sudah diprediksi sebagai resiko terburuk oleh Fergie. Resiko terburuk yang tidak akan melengserkan MU dari tahta sementara Premiership. Mustahil manager sekaliber Alex Ferguson berniat mengalahkan Chelsea dengan menyimpan Evra, Ronaldo, Tevez dan Scholes.



Mungkin Fergie sedang "bermain-main" dengan keunggulan selisih gol. Jauh-jauh hari sebelum mengalahkan Arsenal, Fergie meyakini juara musim ini ditentukan oleh selisih gol. Fergie sengaja menyimpan amunisinya untuk menjamu Barcelona di Old Trafford selasa depan untuk mengamankan tiket Final di Moscow. Enam point tersisa akan diborong saat menjamu West Ham dan tandang ke Wigan. Semoga evaluasi ini benar-benar membongkar pikiran dan strategi Ferguson untuk mengakhiri musim ini dengan dua gelar.

Sahabat ! Apakah mungkin Alex Ferguson berniat mengalahkan Chelsea dengan formasi seperti itu ? Terus terang jika berniat menang dengan formasi ini, Fergie benar-benar berbuat KRIMINAL, sangat KRIMINAL !

Foto di ambil di stuartfrew.com.








[get this widget]

Read more!